#29 | Berkah Gunung Merapi

 
Gunung Merapi di Pagi Hari

 
Dari gardu pandang lokasi wisata Teras Merapi, saya menyaksikan gunung merapi yang masih diselimuti kabut saat jam menunjukkan 8 pagi. Jarak ke gunung merapi tinggal 5,3 km di mana jarak ideal pemukiman terdekat dengan puncak gunung adalah 10 km.
 
Dari gunung yang masih aktif itu lah terdapat begitu banyak orang yang menggantungkan hidupnya dari sana. Muntahan letusan gunung merapi setidaknya mengeluarkan bebatuan dan pasir. Pasir dan bebatuan itu ikut mengalir ke sungai saat lahar dingin dan panas keluar dari gunung itu.
 
Dari sungai itu lah masyarakat setempat mengeruk pasir dan bebatuan lalu dijual. Maka saat kami memasuki wilayah kecamatan Cangkringan untuk menuju Teras Merapi, saya berpapasan dengan puluhan truk yang mengangkut pasir dan bebatuan.
 
Hawa dingin gunung merapi juga membawa berkah warga sekitar untuk bertani, berkebun, hingga berternak. Maka sejuknya pemandangan pada hamparan sawah dan perkebunan bisa disaksikan di sepanjang jalan menuju Teras Merapi setelah kita memasuki Cangkringan.
 
Karena begitu menggantungkan hidupnya terhadap gunung merapi dan juga sudah menyatunya kehidupan warga sekitar terhadap aktifitas gunung itu, terkadang mereka tidak mau mengungsi saat gunung itu meletus. Kondisi seperti ini yang mungkin sulit dipahami bagi orang lain yang tidak tinggal di sekitar gunung merapi.
 
Kalau pun mereka mau mengungsi, sebagian warga akan berusaha dan bahkan memaksa untuk menengok rumah dan hewan ternaknya saat mereka berada di lokasi pengungsian.
 
Dari gardu pandang Teras Merapi, saya menyaksikan di kejauhan puluhan truk yang akan mengangkut pasir dan bebatuan dari sebuah sungai yang juga berjarak sekitar 5 km dari puncak gunung merapi. Begitu juga para petani beraktifitas di hamparan sawah yang tak jauh dari gardu pandang.

Komentar

Rekomendasi