 |
| Kawasaki Versys 250 |
Kemarin, saya dan istri berjumpa dengan teman dari Aceh di sebuah penginapan di wilayah Sleman, Yogyakarta. Namanya Kamaruzzaman Bustaman Ahmad, dosen sekaligus antropolog-sosiolog di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh. Kami lebih sering mengundang dengan sebutan Wak Kamal. Istrinya, Fitri Zulfidar, juga ikut menemui kami.
Setiap Wak Kamal ke Jogja, kami selalu berusaha menemuinya. Yang terakhir, kami menemuinya di Resto Lombok Idjo. Pada pertemuan sebelumnya, Wak Kamal berkunjung ke rumah kami. Kunjungan Wak Kamal ke Jogja pada dua pertemuan sebelumnya untuk keperluan akademis, baik yang terkait dengan tugasnya sebagai dosen atau peneliti.
Kali ini, kunjungan ke Jogja beserta istrinya itu bukan untuk keperluan akademis. Sejak Juli 2021, mereka berdua berkeliling Indonesia untuk mengampanyekan program “Indonesia Harmoni.” Menggunakan Kawasaki Versys 250 warna hitam, mereka berdua menyusuri daerah-daerah di Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Singgah ke Jogja merupakan rute perjalanan pulang ke Aceh setelah melakukan perjalanan panjang itu.
Bukan semata singgah, tapi kunjungan ke Jogja juga untuk bertemu dengan teman-teman lama yang dulu sama-sama kuliah di IAIN (kini UIN) Sunan Kalijaga, Jogja. Bahkan, ada satu teman yang baru ditemui setelah hampir 20 tahun tak berjumpa sejak menyelesaikan program sarjana di kampus tersebut. Pada pertemuan kemarin, tak banyak cerita muncul akan kenangan selama kuliah puluhan tahun lalu.
 |
| Kami, bersama Wak Kamal (Kaos Lengan Pendek tanpa Peci) |
Kami dan teman-teman Wak Kamal lainnya lebih banyak mendengar cerita perjalanan keliling Indonesia yang baru pertama kali mereka jalani, setelah sebelumnya pernah melakukan perjalanan dari Bali ke Banda Aceh.
Untuk tetap menjaga kondisi tubuh sehat, mereka berdua hanya melakukan perjalanan pada siang hari, dengan jeda berhenti istirahat tiap dua jam sekali. Dengan menggunakan aplikasi pemesanan hotel, mereka lebih memilih menginap di hotel untuk beristirahat dari pada menginap di rumah teman atau warga setempat.
Apalagi dengan aplikasi tersebut, mereka bisa mendapatkan hotel dengan harga terjangkau sekitar 150 ribuan. Hanya sekali mereka menginap di hotel dengan harga 300 ribuan.
Selama perjalanan, mereka berdua tak pernah kehabisan bensin karena setiap bensin berkurang setengahnya, langsung diisi penuh dan baru sekali mereka mengisi bensin secara ngecer di sebuah warung.
Salah satu kesan yang mereka berdua peroleh selama berkeliling Indonesia adalah proses pemerataan infrastruktur yang mulai terwujud. Harga bensin relatif sama dari satu daerah ke daerah lainnya. Begitu juga infrastruktur jalan juga mulai ada perbaikan di daerah-daerah Luar Jawa.
Meski kwalitas aspal di Luar Jawa berbeda dengan di Jawa, mereka berdua menangkap bahwa masyarakat di Luar Jawa merasakan kepuasan atas perbaikan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah. Seperti halnya pada Jalan Trans Papua, warga yang mereka temui merasa sangat terbantu karena perbaikan infrastruktur itu memangkas durasi perjalanan.
Berkeliling Indonesia juga memberi kesan nyata, betapa besar negeri Indonesia yang membentang dari Sabang hingga Merauke, dengan latar suku, agama, dan ras yang berbeda-beda. Kompleksitas perbedaan itu lah yang menjadikan mereka berdua sadar betapa terwujudkan Kesatuan Negera Republik Indonesia (NKRI) itu merupakan anugrah yang tak ternilai harganya.
Tak terasa, hampir dua jam kami mendengar ceritanya. Rasanya, kami ingin mendengar lebih banyak lagi cerita mereka berdua. Namun kami harus memberi mereka berdua waktu untuk istirahat karena esok paginya akan melanjutkan perjalanan ke Purworejo dan Purwokerto untuk bertemu dengan teman-teman lama.
Sebelum berpisah, mereka memberi semangat kepada kami untuk juga melakukan perjalanan berkeliling ke Indonesia.
“Kalau pernah sekali berkeliling Indonesia, pasti akan ketagihan,” kata Wak Kamal.
Komentar
Posting Komentar