#24 | Mengurangi Konsumsi Obat Kimia
| Ilustrasi Obat, Credit: pexels.com/Dave |
Sudah cukup lama saya mempunyai alergi gatal pada kulit. Meski lupa kapan pastinya, tampaknya dalam durasi 5 tahun belakangan ini saya mulai merasakan alergi itu.
Rasa gatal itu mengenai kulit tubuh, baik di kaki, lengan tangan, punggung maupun di bagian tubuh lainnya. Biasanya, rasa gatal itu muncul di malam hari menjelang tidur. Kalau sudah tidak kuat dengan gatal yang muncul di tubuh, biasanya saya langsung minum citirizine, obat untuk mengurangi keluhan alergi seperti gatal pada kulit.
Kalau rasa gatal itu muncul menjelang tidur malam dan tidak minum citirizine, biasanya saya akan kesulitan tidur karena menahan rasa gatal itu.
Sebelum alergi gatal itu saya rasakan, lebih dulu saya sering terkena flu. Bila flu sudah cukup parah, saya minum obat neozep forte. Cukup satu tablet langsung merasakan efeknya. Kedua obat citirizine dan neozep forte itu lah yang selalu tersedia di laci obat.
Bahwa minum obat secara terus menerus akan berdampak pada tubuh itu tentu wejangan yang sudah sering saya dengarkan. Pada satu sisi obat dapat menjadi penyembuh, tapi pada sisi yang lain, obat akan menjadi racun bila dikonsumsi secara berlebih.
Salah satu dampak buruknya adalah kerusakan ginjal yang lebih sering dikenal dengan gagal ginjal. Ini terjadi saat banyaknya racun yang kita konsumsi tertumpuk di ginjal.
Nasehat untuk berhenti minum obat tentu sangat baik tapi ternyata susah untuk betul-betul meninggalkannya. Apalagi saat alergi gatal cukup parah dan saya rasakan menjelang tidur. Pada momen-momen seperti itu, saya tidak berpikir panjang lagi dan langsung segera mengambil satu tablet cetirizine dan langsung meminumnya.
Dari pada susah tidur padahal esok hari harus bekerja, mending minum satu tablet citirizine.
Demikian yang sering menjadi alasan buat saya untuk terus minum obat itu. Saya mengamati, setiap tiga hari sekali alergi gatal itu muncul dan setiap gatal itu datang saya minum cetirizine. Artinya, tiap tiga hari sekali saya minum obat itu.
Sebelum saya sering mengkonsumsi cetirizine, saya pernah berkunjung ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Dr. Sardjito. Tidak cukup sekali untuk sekadar konsultasi, tapi mengikuti anjuran dokter untuk mengikuti serangkaian tindakan, salah satunya pengambilan dahak di tenggorakan.
Tindakan itu sebenarnya untuk mengetahui penyebab alergi gatal yang sering saya alami, apakah berasal dari debu, hawa dingin, bulu binatang, atau lainnya. Karena belum menemukan penyebabnya, saya dianjurkan untuk mengikuti tindakan selanjutnya.
Karena proses yang panjang itu “sekadar” untuk mengetahui penyebab alergi dan tidak untuk mengobati alergi itu sendiri, saya memutuskan untuk tidak melanjutkan tindakan lanjut yang dianjurkan dokter.
Saya berdamai dengan alergi yang sering saya alami. Tapi cara berdamai saya dengan alergi itu tidak tepat karena ketika alergi itu muncul, saya langsung minum cetirizine.
Suatu kali saat berkunjung ke tetangga dan dia bercerita tentang dampak buruknya minum obat bila di dikonsumsi secara terus menerus. Cerita seperti itu sebenarnya sudah sering saya dengar. Tapi entah mengapa, sejak pertemuan itu saya sampai saat ini sudah tidak minum cetirizine, neozep forte, maupun paracetamol bila saya merasa pusing.
Memang kadang tidak tahan bila menjelang tidur rasa gatal itu muncul karena jadi susah tidur. Tapi saya paksakan dan akhirnya bisa tidur juga. Setidaknya sudah lebih dari dua minggu, sampai saat ini saya tidak minum obat lagi. Ini mungkin cara berdamai dengan alergi “secara benar.”
Komentar
Posting Komentar